| BATUTUMONGA
|
|
|
Berlokasi di daerah Sesean yang beriklim dingin, sekitar 1300 meter
di atas permukaan laut. Di daerah ini terdapat 56 menhir batu dalam sebuah
lingkaran dengan lima pohon kayu ditengahnya. Kebanyakan dari batu menhir
itu berukuran dua sampai tiga meter tingginya. Pemandangan yang sangat mempesona
di atas Rantepao dan lembah disekitarnya, dapat dilihat dari tempat ini sangat
menarik untuk dikunjungi.
|
|
|
BORI
|
|
|
Obyek wisata utama adalah rante (tempat upacara pemakaman secara
adat yang dilengkapi dengan buah menhir / megalit), dalam bahasa Toraja disebut
simbuang batu. Seratus dua batu menhir yang berdiri dengan megah terdiri
dari 24 buah ukuran besar, 24 buah ukuran sedang dan 54 buah ukuran kecil.
Ukuran menhir ini mempunyai nilai adat yang sama. Penyebab perbedaan adalah
situasi dan kondisi pada saat pembuatan / pengambilan batu, misalnya; masalah
waktu, kemampuan biaya dan situasi pada masa kemasyarakatan. Megalit / simbuang
batu hanya diadakan bila seorang pemuka masyarakat yang meninggal dunia dan
upacaranya dilaksanakan dalam tingkat Rapasan Sapurandanan (kerbau yang dipotong
sekurang-kurangnya 24 ekor). Pada tahun 1657 Rante Kalimbuang mulai digunakan
pada upacara Pemakaman Ne'Ramba' dimana 100 ekor kerbau dikorbankan dan didirikan
dua simbuang batu.
Selanjutnya pada tahun 1807 pada acara pemakaman Tonapa Ne'Padda'
didirikan 5 buah simbuang batu, sedang kerbau yang dikorbankan sebanyak 200
ekor. Ne'Lunde yang pada upacaranya dikorbankan lebih dari 100 ekor kerbau
didirikan 3 buah simbuang batu.
Selanjutnya berturut-turut sejak tahun 1907, banyak simbuang
batu didirikan dalam ukuran besar, sedang, kecil dan secara khusus pada pemakaman
Almarhumah Lai Datu (Ne' Kase') pada tahun 1935 didirikan satu buah simbuang
batu yang terbesar dan tertinggi. Simbuang batu yang terakhir adalah pada
upacara pemakaman Almarhum Sa'pang (Ne'Lai) pada tahun 1962.
Dalam kompleks Rante Kalimbuang tersebut terdapat juga hal-hal
yang berkaitan dengan upacara pemakaman yaitu:
-
Lakkian yaitu persemayaman jenazah selama upacara dilaksanakan
di Rante
-
Balakkayan yaitu panggung tempat membagi daging secara
adat
-
Sarigan yaitu usungan jenasah Langi' yaitu bangunan induk
menaungi sarigan
-
Liang Pa' / kuburan batu yang dipahat.
|
|
|
BUNTAO
|
|
|
Buntao adalah kampung yang sangat menarik untuk dikunjungi khususnya
di waktu hari pasar. Buntao mempunyai patane, iaitu kuburan yang berbentuk
rumah Toraja. Dan di atas bukit di sekitar kampung banyak terdapat kuburan tua.
|
|
|
BUNTU KALANDO
|
|
|
Obyek wisata ini adalah Tongkonen Puang Sangalla' yang telah difungsikan
sebagai museum dan home stay terletak di elurahan Kaero, kecematan Sangalla',
20 km dari kota Rantepao. Buntu Kalando mempunyai adat "Tando Tananan Lantangna
Kaero Tongkonan Layuk" yaitu sebagai tempat kediaman Puang Sangalla'. Tonkonan
ini dibangungun bersama dengan tiga lumbung padi (alang sura').
Buntu Kalando sebagai Tongkonan Tananan Lantangna Kaero Tongkonan Layuk
dilengkapi dengan beraneka ragam tanduk yaitu tanduk kerbau, tanduk rusa,
dan tanduk anoa terpampang di bagian muka tongkonan dua buah kabongo' yaitu
satu kabongo' bonga sura' dan satu kabongo' pudu' serta di atasnya didudukkan
katik yang menyerupai Langkan maega (burung elang), perlambang kebesaran.
Sebagai museum dalam tongkonan ini dilengkapi barang-barang koleksi antara
lain:
-
Alat kerajaan Sangalla'
-
Pakaian kebesaran
-
Barang-barang bersejarah
-
Barang-barang antik
-
Alat-alat perang
-
Alat-alat ritus
-
Alat-alat pertanian
-
Alat-alat dapur
-
Alat-alat makan
-
Alat-alat minum
-
Barang-barang berchasiat (balo')
Demikian sejarah singkat Buntu Kalando, yang selalu siap menanti kunjungan
anda.
|
|
|
BUNTU PUNE
|
|
|
Obyek wisata Buntu Pune terletak ± 3 km arah selatan jurusan
Ke'te' Kesu', Buntu Pune adalah salah satu permukiman yang dibangun oleh
Pong Maramba' disekitar tahun 1880 dan merupakan pusat pemerintahannya setelah
menjadi Parengnge' di wilayah Kesu' dan Tikala. Pada lokasi tersebut terdapat
beberapa lumbung dan tongkonan yang dipindahkan dari daerah perbukitan dan
lereng-lereng gunung batu oleh generasi berikutnya serta dibangun bertipe
permukiman orang Toraja zaman dulu yang bernuansa exklusif, sukar dicapai
musuh karena pos-pos pengintaian yang berlapis-lapis serta didukung oleh
situasi alam di sekitarnya. Buntu Pune didukung oleh latar belakang batu
cadas dimana pada dinding-dinding batu tersebut terdapat gua-gua alam yang
juga dimanfaatkan untuk kuburan-kuburan leluhur. Dengan demikian kita banyak
menjumpai erong (peti mayat purba) di dalam liang-liang tersebut. Di lokasi
tersebut terdapat juga patane (kuburan dari semen) di puncak gunung batu
yang dibuat sekitar tahun 1918 dan sampai saat ini masih digunakan.
Buntu Pune sampai sekarang masih terpelihara dengan baik
dan termasuk salah satu situs peninggalan sejarah dan kepurbakalaan pada
suaka peninggalan sejarah dan purbakala Sulawesi Selatan dan Tenggara.
|
|
|
GALUGA DUA
|
|
|
Tongkonan Layukna Galuga Dua merupakan salah satu tongkonan yang dijadikan
pengadilan, selain digunakan untuk pengadilan terhadap pelanggaran adat yang
menjadi tanggung jawab To'Perengnge, juga merupakan pusat musyawarah para
pemimpin keluarga dari Tongkonan Galuga dua untuk menentukan suatu rencana.
Terletak sekitar 12 Km, arah utara dari Rantepao, Tongkonan Layukna Puang
Galuga Dua; ini dibangun pada tahun 1189 oleh kedua putra Galuga. Dari kedua
putranya ini, masing-masing membangun Tongkonan yaitu Tongkonan Papabannu'
dari putra pertama dan Banau Sura' dari putra keduanya.
Tongkonan Layukna Galuga selain tongkonan keluarga Galuga Dua juga merupakan
pusat pertenunan dengan bebagai motif sesuai dengan kebutuhan adat dan ciri
khas budaya Toraja. Macam-macam motif tenunan adalah: Tenunan Pamiring khusus
untuk sarung perempuan,Tenunan Sappa khusus untuk celana laki-laki, Tenunan
Paramba' khusus untuk selimut, Tenunan Paruki' khusus taplak meja dan dekorasi
atau hiasan dinding, tenunan Lando khusus tombi untuk pesta untuk pesta
rambu solo' atau sapu randanan. |
|
|
KAMBIRA - KUBURAN
BAYI / PASSILIKAN
|
|
|
Seseorang yang belum tembuh gigi apabila meninggal dunia akan
dikuburkan ke dalam sebatang pohon kayu yang hidup dari jenis pohon kayu
Tarra'. Kayu yang digunakan dilokasi ini telah berumur sekitar ± 300
tahun yang lalu.
Proses pelaksanaan pekuburan sejenis ini mengenal tahap-tahap
sebagai berikut:
Bayi yang meninggal dibalut dengan kian putih yang pernah
dipakai dalam posisi dalam keadaan dipangku.
Kemudian keluarga memberi tanda pada pohon kayu yang hendak
digunakan sebagai kuburan (ma'tanda kayu).
Membuat lubang dengan ketentuan tidak boleh berhadapan dengan
rumah kediamannya.
Mempersiapkan penutup kubur dari bahan pelepah enau (kulimbang
ijuk).
Membuat tana' (pasak) karurung dari ijuk sesuai tingkatan
strata sosialnya.
12 tana' karurung bagi tingkatan bangsawan.
8 tana' karurung bagi tingkatan menengah.
6 tana' karurung bagi tingkatan bawah.
Ma'kadende' yaitu membuat tali ijuk sebelum jenasah dibawa
ke kuburan, seekor babi jantan hitam dipotong/disembelih di halaman rumah
duka, kemudian dibawa ke kuburan dengan diusung. Setibanya di kuburan babi/daging
tersebut dimasak dalam bambu/dipiong, tanpa diberi garam atau bumbu lainnya
setelah semua itu siap mayat dibawah ke kuburan dengan syarat sebagai
berikut:
-
Dibawa dalam posisi dipangku.
-
Pengantar mayat baik laki-laki maupun perempuan harus berselubung
kain.
-
Dilarang berbicara, menoleh ke kiri atau ke kanan maupun ke
belakang.
Setibanya jenasah di pekuburan penjemput jenasah turun dari
tangga lalu mengambil, mengangkat, dan memasukkan jenasah ke dalam lubang
kayu dalam posisi berlutut menghadap keluar. Kemudian kubur itu ditutup dengan
kulimbang di tana' /dipasak sesuai dengan statusnya dan sesudah ini dilapisi
dengan ijuk dan diikat dengan kadende' (tali ijuk).
Sepanjang kegiatan tersebut di atas, seluruh orang yang hadir
dilarang berbicara, nanti setelah ma'taletek pa'piong (membelah bambu berisi
daging yang sudah masak) berarti orang sudah boleh berbicara dan orang yang
berada diatas tangga sudah boleh turun.
|
|
|
KE'TE' KESU'
|
|
|
Ke'te' Kesu' adalah obyek wisata yang sudah populer diantara turis
domestik dan asing sejak tahun 1979 terletak dikampung Bonoran yang berjarak
4 km dari Kota Rantepao, telah ditetapkan sebagai salah satu Cagar Budaya
dengan nomor registrasi 290 yang perlu dilestarikan / dilindungi. obyek wisata
ini sangat menarik, oleh karena memiliki suatu kompleks perumahan adat Toraja
yang masih asli, yang terdiri dari beberapa Tongkonan, lengkap dengan Alang
Sura' (lumbung padinya).
Tongkonan tersebut dari leluhur Puang ri Kesu' di fungsikan sebagai tempat
bermusyawarah, mengelolah, menetapkan dan melaksanakan aturan-aturan adat,
baik aluk maupun pemali yang digunakan sebagai aturan hidup dan bermasyarakat
di daerah Kesu', dan juga di seluruh Tana Toraja, yang disebut aluk Sanda
Pitunna (7777). Obyek wisata ini dilengkapi pula dengan areal; upacara pemakaman
(rante), kuburan (liang) purba dan makam-makam modern, namun tetap berbentuk
motif khas Toraja, pemukiman, perkebunan dan persawahan yang cantik dan
menyejukkan hati. Sekaligus para pengunjung dapat menyaksikan seni ukir Toraja
di lokasi ini.
|
|
|
LEMO BUNTANG
|
|
|
Lemo adalah tempat pekuburan dinding berbatu dan patung-patung
(tau-tau). Jumlah lubang batu kuno ada 75 buah dan tau-tau yang tegak berdiri
sejumlah 40 buah sebagai lambang-lambang prestise, status, peran dan kedudukan
para bangsawan di desa Lemo. Di beri nama Lemo oleh karena model liang batu
ini ada yang menyerupai jeruk bundar dan berbintik-bintik.
Sejak tahun 1960, obyek wisata ini telah ramai di kunjungi
para wisatawan asing dan wisatawan nusantara.
Pengunjung dapat pula melepaskan keinginannya dan membelanjakan
dolarnya, euronya atau rupiahnya pada kios-kios souvenir. Ataukah berjalan-jalan
sekitar obyek menyaksikan buah-buah pangi yang ranum kecoklatan, yang siap
diolah dan di makan sebagai makanan khas suku Toraja yang di sebut "Pantollo
Pamarrasan". Selamat menikmati.
|
|
|
LO'KO' MATA
|
|
|
Lo'ko' Mata (Lokomata) mengambil posisi di lerang gunung Sesean
pada ketinggian ± 1.400 m di atas permukaan laut. Suatu tempat yang
sangat menawan, fantastik dan bila seseorang datang dan menyaksikan serta
merenungkan ciptaan ini rasa kangen pasti ada. Selain itu anda dapat menyaksikan
panorama alam yang sangat indah dan deru arus sungai di bawah kaki kuburan
alam ini. Yang terletak di desa Pangden ± 30 km dari kota
Rantepao.
Nama Lo'ko' Mata diberi kemudian oleh karena batu alam yang
dipahat ini menyerupai kepala manusia, tetapi sebenarnya liang Lo'ko' Mata
sebelumnya bernama Dassi Dewata atau Burung Dewa, oleh karena liang ini ditempati
bertengger dan bersarang jenis-jenis burung yang indah-indah warna bulunya,
dengan suara yang sangat mengasyikkan tetapi kadang-kadang menakutkan.
Pada abad ke 14 (1480) datanglah pemuda Kiding memahat batu raksasa ini untuk
makam mertuanya yang bernama Pong Raga dan Randa Tasik (I) selanjutnya pada
abad 16 tahun 1675 lubang rang ke II dipahat oleh Kombong dan Lembang. Dan
pada abad ke 17 lubang yang ke III dibuat oleh Rubak dan Datu Bua'. Liang
pahat ini tetap digunakan sampai saat ini saat kita telah memasuki abad ke
/ (milenium III). Luas areal obyek wisata. Lo'ko' Mata ± 1 ha dan semua
lubang yang ada sekitar 60 buah.
|
|
|
LOMBOK PARINDING
|
|
|
Kuburan Erong Lombok Parinding adalah merupakan salah satu obyek
wisata yang menarik karena mempunyai daya tarik tersendiri seperti Erong
yang unik dan antik, yang terletak di Dusun Parinding Matampu Kecamatan Sesean,
kurang lebih 7 km dari kota Rantepao ke utara. Lombok
Parinding pertama kali ditempati oleh salah seorang yang bernama Tomangli
anak dari suami istri Bongga Tonapo dan Datu Banua sekaligus cucu dari suami
istri Palairan dan Patodemmanik dan disitulah mereka menetap mendirikan rumah
sambil bertani-sawah. Selanjutnya Tomangli melahirkan
8 orang dan anak Tomangli berkembang biak sampai sekarang (keturunan yang
ke 7). Melihat dan memperhatikan serta menghitung-hitung
umur dan kuburan erong Lombok Parinding mulai dari ke 8 orang anak-anak Tomongli
sudah berumur kurang lebih 700 tahun. Demikianlah sejarah singkat kuburan
erong Lombok Parinding. Semoga sejarah singkat ini dapat bermanfaat bagi
wisatawan dan dapat dijadikan sebagai bahan informasi.
|
|
|
LONDA
|
|
|
Sama dengan Lemo, Londa adalah tempat pekuburan dinding berbatu
dan patung-patung (tau-tau). Di dalamnya terdapat gua dengan banyak tengkorak
kepala manusia. obyek wisata Londa yang berada di desa Sandan Uai Kecamatan
Sanggalangi' dengan jarak 7 km dari kota Rantepao, arah ke selatan, adalah
kuburan alam purba. Gua yang tergantung itu, menyimpan misteri yakni erong
puluhan banyaknya, dan penuh berisikan tulang dan tengkorak para leluhur,
tau-tau. Tau-tau adalah pertanda bahwa telah sekian banyak putra-putra Toraja
terbaik telah dimakamkan melalui upacara adat tertinggi di wilayah Tallulolo.
Gua-gua alam ini penuh dengan panorama yang menakjubkan ± 1.000 m jauh
kedalam, dapat dinikmati dengan petunjuk guide yang sudah terlatih dan
profesional.
Kuburan alam purba ini dilengkapi dengan sebuah "Benteng
Pertahanan". Patabang Bunga yang bernama Tarangenge, yang terletak di atas
punggung gua alam ini. obyek ini sangat mudah dikunjungi, oleh karena sarana
dan prasarana jalannya baik. Satu hal perlu diingat bahwa seseorang yang
berkunjung ke obyek ini, wajib memohon izin dengan membawa sirih pinang,
atau kembang. Sangat tabu/pemali (dilarang keras) untuk mengambil atau
memindahkan tulang, tengkorak, atau mayat yang ada dalam gua ini.
|
|
|
MAKALE, IBUKOTA TANA TORAJA
|
|
|
Pada asal mulanya Makale berasal dari kata Makale menurut kata orang,
penduduk yang hidup di Makale senantiasa bangun pada waktu matahari belum
terbit (Makale') oleh karena leluhur mereka mempercayai bahwa orang yang
bangun mendahului matahari terbit (Makale') selalu mendapat keberuntungan
atau rezeki. Tetapi karena perubahan ucapan kata maka Makale' berubah menjadi
Makale. Makale adalah pusat pemerintahan dan juga terkenal sebagai kota tenang
dan damai. Di tengah-tengah kota Makale terdapat sebuah kolam yang airnya
jernih dan penuh berisi dengan bermacam jenis ikan. Kolamnya di sebut kolam
Makale.
Bukit-bukit yang terjal dari kota dimahkotai oleh puncak menara
gereja, sembari kaki lembah didominasi oleh bangunan pemerintah yang baru.
Banyak di antaranya mengambil tipe bangunan rumah tradisional Toraja arsitektur
yang penuh dengan ukiran dan atap yang melengkung. Kota merupakan daerah
yang tepat menghubungkan dengan daerah Toraja barat, sekitar Londa, Suaya
dan Sangalla. Pada saat pasar kota ini merupakan pusat aktivitas karena rakyat
dari jauh datang dengan hasil produksinya berupa binatang, kerajinan tangan
tikar, keranjang dan kerajinan buatan lokal. |
|
|
MAKULA
|
|
|
Rekreasi bagi manusia-manusia modern yang kini hidup dalam abad
komputer dan IPTEK yang canggih, bukan lagi sekedar sebagai pelengkap, tapih
sudah menjadi kebutuhan utama, untuk membuat otak, hati dan perasaan mengalami
refreshing. Oleh sebab itu kami mengajak anda untuk segera mengunjungi kolam
renang air panas Makula yang jaraknya hanya 28 km dari kota Rantepao. Di
tempat ini ada sumber mata air panas, di samping ada rumah tempat istirahat
mempunyai bak mandi dengan sumber mata air yang mengalir. Di muka ada kolam
kecil untuk anak-anak diisi oleh air panas yang mengalir dari belakang rumah.
Tempat ini sangat baik untuk berendam di air panas setelah perjalanan jauh.
Pergi pulang, anda dapat menikmati pemandangan alam yang menyenangkan hati.
Selamat berekreasi dan jangan lupa membawa keluarga.
|
|
|
MARANTE
|
|
|
Pada mulanya Desa Tondon lasim disebut Mesa' Ba'bana Tondon Apa'
Tepona Padang, yaitu Tondok Batu, Siba'ta, Kondo' dan Langi'. Sangpulo dua
Karopi'na itulah Desa Tondon, yang dipimpin oleh dua pemangku adat yang lazim
disebut Toparenge', yaitu Marante dan Barang Bua'. Fungsi Toparenge' disini
adalah memimpin segala kegiatan yang dilaksanakan oleh masyarakat baik itu
upacara pesta syukur (Rambu Tuka') maupun upacara pesta pemakaman (Rambu
Solo'), juga penentu kebijakan-kebijakan yang berlaku dalam masyarakat. Seiring
dengan kemajuan pembangunan dan terpilihnya Tana Toraja sebagai salah satu
daerah tujuan wisata di Indonesia.
Sejak itu juga Marante terpilih sebagai salah satu obyek wisata
yang ada di Tana Toraja, karena Marante mempunyai letak yang sangat strategis,
yaitu terletak pada jalan poros dari Makassar ke Palopo dan letaknya tidak
jauh dari kota Rantepao yang jaraknya kira-kira 4 km. Disamping itu Marante
mempunyai daya tarik tersendiri bagi wisatawan asing yang datang berkunjung
ke Marante, baik itu wisatawan mancanegara maupun wisatawan
nusantara/domestik
Obyek wisata Marante memiliki banyak daya tarik
peninggalan-peninggalan kuno yaitu berupa;
- Rumah adat (rumah tongkonan)
- Patung-patung (tau-tau)
- Erong
- Kuburan batu/liang pahat
- Patane (kuburan kayu)
Dan masih banyak lagi pemandangan yang bisa memikat hati
wisatawan. Demikianlah sekelumit sejarah singkat dan daya tarik obyek wisata
Marante.
|
|
|
NANGGALA (PENANIAN)
|
|
|
Dahulu kala seorang lelaki dari Gunung Sesean bernama "Tomadao"
bertualang. Dalam petualangannya ia bertemu dengan seorang gadis dari gunung
Tibembeng bernama "Tallo Mangka Kalena". Mereka kemudian menikah dan bermukim
di sebelah timur desa Palawa' sekarang ini yang bernama Kulambu. Dari perkawinan
ini lahir seorang anak laki-laki bernama Datu Muane' yang kemudian menikahi
seorang wanita bernama Lai Rangri'. Kemudian mereka beranak pinak dan mendirikan
sebuah kampung yang sekaligus berfungsi sebagai benteng pertahanan. Apabila
ada peperangan antara kampung dan ada lawan yang menyerang dan
dikalahkan/dibunuh, maka darahnya diminum dan dagingnya dicincang dan disebut
Pa'lawak. Pada pertengahan abad ke 11 berdasarkan musyawarah adat disepakati
mengganti nama Pa'lawak menjadi Palawa'. Palawa' sebagai suatu kompleks perumahan
adat. Dan bukan lagi daging manusia yang dimakan, tetapi diganti dengan ayam,
dan disebut Pa'lawa' manuk.
Keturunan Datu Muane secara berturut-turut membangun tongkonan
di Palawa'.
Sekarang ini terdapat sebelas tongkonan (rumah adat) yang
urutannya sebagai berikut (dihitung dari sebelah barat):
1. Tongkonan Salassa' dibangun oleh Salassa'
2. Tongkonan Buntu dibangun oleh Ne' Tatan
3. Tongkonan Ne' Niro dibangun oleh Patangke dan Sampe bungin
4. Tongkonan Ne' Darre dibangun oleh Ne' Matasik
5. Tongkonan Ne' Sapea dibangun oleh Ne' Sapiah
6. Tongkonan Katile dibangun oleh Ne' Pipe
7. Tongkonan Ne' Malle dibangun oleh Ne' Malle
8. Tongkonan Sasana Budaya dibangun oleh Ne' Malle
9. Tongkonan Bamba II dibangun oleh Patampang
10. Tongkonan Ne' Babu' dibangun oleh Ne' Babu'
11. Tongkonan Bamba I dibangun oleh Ne' Ta'pare
Sebagaimana layaknya tongkonan di Tana Toraja, maka tongkonan
Palawa' juga memiliki rante yang disebut Rante Pa'padanunan dan liang tua (kuburan
batu) di Tiro Allo dan Kamandi. Selain Tongkonan juga dibangun lumbung
atau alang sura' (tempat menyimpan padi) sebanyak 5 buah.
|
|
|
PANGLI, PATANE PONG MASSANGKA
|
|
|
Patane (kuburan dari kayu berbentuk rumah Toraja) dibangun pada
tahun 1930. Untuk seorang janda yang bernama Palindatu yang meninggal pada
tahun 1920 dan diupacarakan secara adat Toraja tertinggi yang disebut Rapasan
sapu randanan. Palindatu dikawini oleh seorang putra bernama Tangkeallo dan
melahirkan beberapa anak. Salah satu anaknya yang bungsu bernama Semba' alias
Pong Massangka dengan gelar Ne' Babu' oleh kematian misionaris Belanda Arie
van de Loosdrecht di Rante Dengen Bori' pada tanggal 27 Desember 1917, maka
Pong Massangka alias Ne' Babu' salah satu yang tertuduh sehingga dihukum
buang ke Bogor / Nusa Kambangan dan dikembalikan pada tahun 1930 ke Tana
Toraja dan meninggal dunia pada tahun 1960 dalam usia 120 tahun (lahir 1840).
Mayat Pong Massangka dengan gelar Ne' Babu' disemayamkan dalam patane ini
dan tau-taunya yang terbuat dari batu yang dipahat siap menanti kunjungan anda.
|
|
|
RANTE KARASSIK
|
|
|
Obyek
wisata uli berada di tengah-tengah pemukiman masyarakat Rantepao. Jaraknya
hanya ± 200 m dari poros jalan Makale- Rantepao. Rante Karassik adalah
tempat pelaksanaan upacara adat pemakaman bangsawan dari Tongkonan Kamiri
di Potoksia Buntu Pune. Rante tersebut mulai digunakan pada abad ke 19 oleh
Pong Maramba' untuk acara upacara adat Rambu' Solo' Rapasan Sundun bagi
keluarganya.
Lokasi ini memiliki batu simbuang megalit (menhir) yang jumlahnya 12 buah
masih megah tertancap di atas tanah, dan ada yang ringginya 7,5 m serta puluhan
lainnya masih tertanam di dalam tanah. Menhir ini adalah simbol bahwa telah
sekian banyak upacara adat Rambu Solo' Rapasan yang telah dilaksanakan di
lokasi tersebut.
|
|
|
RANTEPAO, PUSAT WISATA DI TANA TORAJA
|
|
|
Lokasi yang pasti sudah banyak di kenal ke seluruh dunia adalah
pusat wisata di Tana Toraja. Rantepao, 328 km arah utara dari kota Makassar.
Terletak 800 meter di atas permukaan laut, Rantepao menawarkan malam-malam
yang sejuk dan menyenangkan.
Di Rantepao adalah banyak biro tour & travel (rafting
di sunga Sa'dan atau Maiting, package tours ke Tentena, Manado, Bali dll.)
dan toko-toko cinderamata yang menjual souvenir khas Toraja,
diantaranya: kain tenun, patung, golok (dari yang kecil s/d yang besar),
ukiran kayu dan lain-lain. Di kota Rantepao adalah 4 pusat informasi
pariwisata,
12 hotel berbintang dan kira-kira 60 hotel sederhana, wisma dan losmen yang
murah untuk backpackers.
|
|
|
SIGUNTU'
|
|
|
Objek
wisata Siguntu' yang terletak di Dusun Kadundung, Desa Nonongan Kecamatan
Sanggalangi' dengan jarak 5 km dari Kota Rantepao. Objek wisata Siguntu'
mempunyai daya tarik utama adalah Tongkonan yang unik dan berada di sebuah
bukit dengan pemandangan yang mempesona, dikelilingi hamparan sawah pada
bagian timur serta tebing-tebing bukit Buntu Tabang. Obyek Wisata Siguntu'
mempunyai arti dan makna yang sangat luas dimana semula Tongkonan ini dikenal
sebagai Tongkonan Tirorano yang bertempat di Tirorano rang dibangun oleh
Pong Tanditulaan namun oleh karena sudah roboh dan tempatnya yang kurang
strategis maka oleh keluarga membangun kembali dan disatukan di Siguntu'.
Bersama Tongkonan Siguntu' dan Tongkonan Solo' itulah yang disebut Siguntu'.
Tongkonan tersebut dibuka sebagai objek wisata tahun 1973 dan pada tahun
1974 Tongkonan ini dirara (diupacarakan secara adat / Rambu Tuka') dimana
dihadiri oleh para delegasi 60 negara asing yang mengikuti konferensi PATA
di Jakarta tahun 1974. Sejak itulah Toraja semakin dikenal sebagai Daerah
Tujuan Wisata yang handal dan menakjubkan. |
|
|
SILLANAN
|
|
|
Obyek wisata Ma'duang Tondok terletak di kecematan Mengkendek ± 20 km
arah selatan Makale di Desa Sillanan.
Objek tersebut didukung oleh 4 objek wisata yaitu;
- Obyek wisata Lo'ko'wai
- Obyek wisata To'Banga
- Obyek wisata Pangrapasan dan Ma'dandan
- Obyek wisata Tongkonan Karua Sillanan
Objek tersebut masing-masing mempunyai daya tarik yang spesifik dan mempunyai
keunggulan tersendiri seperti:
-
Lo'ko wai; di tempat lokasi ini terdapat mayat bayi yang unik dan awet (di
mummy) di mana rambut, kuku, gigi serta kulitnya masih utuh meskipun umur
mayat tersebut diperkiran sudah berumur ± 4½ abad. Mayat tersebut
di sakralkan oleh masyarakat di wilayah adat Ma'duang Tondok yang secara
mitologis diyakini adalah keturunan Dewa.
-
Kurang lebih 400 m sebelah selatan terdapat kuburan manusia purba yang terdiri
dari tumpukan Erong, serta beberapa liang pahat disekitarnya. Hal lain yang
bisa kita nikmati disekitar objek-objek ini adalah beberapa liang pahat
disekitarnya. Hal lain yang bisa kita nikmati disekitar objek-objek ini adalah
keindahan alam. Para pengunjung masih dapat menyaksikan pohon-pohon tropis
yang terpelihara walaupun umurnya telah tua berkhasiat obat. Perkampungan
tradisional yang masih asli dan unik tempat upacara adat, satu benteng pertahan
yang digunakan untuk memantau musuh pada sekitar abad ke 16. Dan tidak pernah
diterobos oleh musuh pada zaman dahulu. Wilayah obyek wisata Ma'duang Tondok
secara keseluruhan sampai saat ini masih terpelihara dengan baik dan siap
menanti kunjungan anda.
|
|
|
SUAYA
|
|
|
Kuburan berada di salah satu sisi dari bukit. Dipahat sebagai tempat
beristirahat dari tujuh raja dan keluarga kerajaan Sangalla. Tau-tau dari
raja-raja dan keluarga raja berpakaian sesuai dengan pakaian adat raja Toraja
di tempatkan dimuka kuburan batu. Tangga batu tersedia untuk naik ke bukit
dimana raja dikala hidupnya digunakan untuk bersepi-sepi, ditempat itu akan
dibuat museum untuk menempatkan harta kekayaan dari raja-raja Sangalla.
|
|
|
TAMPANG ALLO
|
|
Sejarah singkat obyek wisata Tampang Allo (atau Tampangallo) ini
merupakan sebuah kuburan gua alam yang terletak di Kelurahan Kaero Kecamatan
Sangalla' dan berisikan puluhan erong, puluhan tau-tau dan ratusan tengkorak
dan tulang belulang manusia. Pada sekitar abad ke 16 oleh penguasa Sangalla'
dalam hal ini Sang Puang Manturino bersama istrinya Rangga Bulaan memilih
Gua Tampang Allo sebagai tempat pemakamannya kelak jika mereka meninggal
dunia.
Demikianlah Rangga Bulaan di gadis cantik, asuhan sang kera, meninggal lebih
dahulu dan jenazahnya dimasukkan ke dalam Erong serta diletakkan dalam gua
Tampang Allo. Sedangkan Sang Puang Manturino pada saat meninggal Erong
ditempatkan pada pemakaman losso' yang letaknya tidak jauh dari Tampang Allo.
Entah bagaimana kemudian erong Sang Puang ternyata kosong. Sedangkan jenazahnya
telah bersatu dengan jenazah istrinya di Tampang Allo. Lama setelah Sang
Puang dan istrinya Rangga Bulaan meninggal dunia pusaka kerajaan yang disebut
Bakasiroe' diambil alih oleh Puang Musu' sebagai penguasa Tongkonan Puang
Kalosi. Pada masa itu juga Tana Toraja yang dikenal sebagai Tondok Lepongan
Bulan Tana Matarik Allo berada dalam kekacauan akibat serangan dari kerajaan
Bone. Terjadi juga peperangan antara daerah/ masyarakat setempat dan tentara
Bone membantu salah satunya dan akibat yang kalah perang dirampas sawah dan
kekayaannya serta orang-orangnya dikirim ke Madan dan ke daerah
Bugis.
Puang Musu' membawa pusaka Baka Siroe' mengungsi ke Madan
dan sewaktu Puang ini menyeberang sungai Sa'dan dan salah seorang yang bernama
Karasiak membunuh Puang Musu' dan merampas Baka Siroe'. Keturunan Puang Musu'
selalu berusaha dengan cara apapun untuk mengembalikan pusaka Baka Siroe'
ke tempatnya semula pada tahun 1934, terjadilah perdamaian antara Puang Musu'
dengan keturunan Karasiak melalui perkawinan. Kemudian dengan lahirnya anak
di pari tangga, Pusaka Baka Siroe' diberikan kepada anak tersebut untuk menyimpan
dan memeliharanya. Demikian juga tempat pemakaman mereka kelak disepakati
di Gua Tampang Allo sebagai perwujudan perjanjian dan sumpah suami istri
yaitu "sehidup semati satu kubur kita berdua".
|
|
| TILANGNGA'
|
|
|
Tilangnga' (Tilanga)
sebagai obyek wisata permandian alam, ± 12 km dari kota Rantepao, arah
selatan. Bila pengunjung ingin melemaskan otot-otot dan urat-urat yang penat
sepanjang hari berkeliling ke obyek-obyek wisata, jangan lupa mandi di kolam
air dingin Tilangnga'. Airnya sangat jernih, dingin, sejuk dan tidak pernah
kering. Dan anda juga dapat menyaksikan ikan-ikan berwarna bersama belut-belut
yang santai dalam kolam permandian ini, tanpa merasa terusik. Pada saat ini
air yang mengalir dari obyek wisata ini digunakan untuk air PAM bagi masyarakat
kota Makale dan sekitarnya. |
|
|
TO'BARANA' SA'DAN
|
|
|
Di lokasi To'Barana pada mulanya dilili' atau dibentuk oleh nenek
moyang keluarga To'Barana' yang bernama Langi' Para'pak yang dijadikan
perkampuang keluarga yang luasnya kira-kira 300 x 150 meter dan mendirikan
sebuah rumah tongkonan keluarga yang dinamai tongkonan To'Barana'. Dibaharui
oleh leluhur To'Barana' bernama Puang Pong Labba kira-kira dua abad yang
lalu dan kemudian dibaharui pula oleh keluarga Puang Pong Padata pada tahun
1959, dimana lokasi dan rumah tongkonan tersebut diwariskan kepada turun
temurunnya sampai dewasa ini dan sudah menjadi obyek wisata pertenunan
asli.
Lokasi tersebut di pinggir sungai Sa'dan dan dikelilingi
sungai Sa'dan yang berbentuk huruf "S" itulah sebabnya To'Barana' adalah
pusat Sa'dan.
|
|
|
TONDON MAKALE
|
|
|
Letaknya di tepi jalanan kecil di dekat pasar Makale. Di sisi dari
bukit terdapat barisan tau tau di muka dari kuburan gua. Kuburan ini adalah
kepunyaan para keluarga bangsawan.
Tau-tau adalah patung yang menggambarkan si mati. Pada pemakaman
golongan bangsawan atau penguasa / pemimpin masyarakat muka salah satu unsur
Rapasan (pelengkap upacara acara adat), ialah pembuatan tau-tau. Tau-tau
ini dibuat dari kayu nangka yang kuat yang pada saat penebangannya dilakukan
secara adat. Mata yang hitam dibuat dari tulang dan tanduk kerbau. Tau-tau
tersebut diatas terdapat di Toraja yakni tempat pekuburan di dinding berbatu.
|
|
|
Text: PROFIL POTENSI PARAWISATA DAERAH TANA TORAJA,
issued March 1999 by Dinas Parawisata Daerah Tk. II Tana Toraja
|